Demokrasi Mahal; Kualitas Pejabat, Konten Kreator dan Rendahnya Literasi

oleh -864 Dilihat
Demokrasi Mahal; Kualitas Pejabat, Konten Kreator dan Rendahnya Literasi

Oleh: Gusmiyadi
Aktivis Indonesia Bergerak

Saya sepakat dengan tuntutan rakyat tentang kinerja legislator yang harus banyak diperbaiki. Sikap flexing juga telah menuai kecaman ditengah kesusahan rakyat. Gerakan agustus 2025 merupakan pelajaran habat untuk semua pengampuh kebijakan yang kemudian disebut sebagai pemerintah. Termasuk saya.

Beberapa pengamat, kaum aktivis telah mengambil kesimpulan bahwa gerakan agustus 2025 merupakan gerakan konten kreator. Segmen ini sekarang memiliki peran penting dalam membingkai informasi sekaligus ajakan perubahan. Gerbong-gerbong aliansi mahasiswa cenderung terlambat mensistematisasi gerakan. 17 + 8 tuntutan secara substansial pada akhirnya lebih banyak merespon tuntutan jangka pendek. Diyakini, resiko gerakan berbasis medsos model ini adalah minimnya konsolidasi untuk menyatukan isu.

Bagi para mengamat, gerakan berbasis konten ini mengandung banyak tantangan. Sebagaimana yang kita tau bahwa persoalan terbesar negara ini adalah literasi yang rendah. Dari 1.000 orang, hanya 1 yang memiliki literasi dengan status baik. Kemudian kita dapat membayangkan betapa bahayanya jika informasi-informasi tidak difilter secara baik.

Pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan; bahwa keterbukaan informasi telah membuat segala sesuatu menjadi lebih transparan. Dunia seperti aquarium. Hal ini mengharuskan siapa saja, bukan sekedar pejabat publik, untuk lebih berhati-hati, waspada. Hebatnya lagi, semua dokumentasi kita dimedia sosial dapat terekam. Orang-orang menyebut ini sebagai jejak digital. Situasi ini hendaknya disadari sebagai sebuah alarm sosial buat seluruh umat manusia.

Bagi pejabat yang tidak aktif bermedsos juga akan ketinggalan. Karena dari sinilah publik dapat memonitor track record seseorang. Rutinitas, cara berpikir, sikap, dll.. dll. Sehingga harusnya tidak ada ruang untuk sembunyi.

Pada lompatan selanjutnya ketika kita sudah dewasa ditengah keadaan ini, segala sesuatu diharapkan berjalan secara proporsional. Perjuangan kita adalah meninggikan derajat literasi masyarakat – nitizen. Kemampuan literasi akan menjadi antibodi bagi pemirsa menghadapi serangan hoax, juga informasi parsial.

………….

Pada kesempatan lain, pasca kampus Unisba dikepung panser tentara, saya berinisiatif untuk mengumpulkan cerdik pandai, mantan maupun kaum aktivis kampus untuk melakukan konsolidasi berbasis zoom meeting. Salah satu kesimpulan menarik dari diskusi yang saya moderatori itu adalah pentingnya perbaikan pada sistem demokrasi kita.

Circle demokrasi yang pragmatis merupakan biang dari rendahnya kualitas rekrutmen partai politik dalam memetakan kader untuk bertarung pada setiap pemilu. Hari ini proses demokrasi kita sangatlah mahal. Politik uang merajalela. Kasus seperti ini harus dikunci dalam sistem demokrasi yang lebih mumpuni. Bagi salah seorang narasumber, mantan aktivis 98, ia lebih setuju sistem tertutup untuk menjamin tidak terjadinya politik uang. Memilih partai, bukan Caleg. Bagi saya, penegakan hukum pada peristiwa suksesi pemilu adalah jalan keluar.

Hal mendasar dari diskusi itu sesungguhnya sama. Politik Uang. Inilah biang kerok dari semuanya. Kualitas pejabat publik menjadi rendah. Orang-orang hebat menjadi sulit terpilih jika tidak menabur uang dalam proses pemilu. Tokoh-tokoh lokal berprestasi banyak yang tidak berani maju karena persoalan ini. Pun begitu partai politik juga enggan mencalonkan jagoannya jika tak punya isi tas yang cukup. Meskipun modal sosialnya bagus.

…………….

Saya setuju saat ini kita ada dalam pusaran keadaan yang tidak baik-baik saja. Semua level sosial kita harus melakukan outo kritik. Belajar memahami semua fenomena ini dengan akal dan hati yang jernih. Pejabat publik harus berkinerja baik, berkomunikasi yang baik, hindari flexing. Begitu juga disisi yang lain – semua pemilik suara pada pemilu kelak; tak boleh lagi memilih pemimpin hanya berdasarkan uang. Wani piro. NPWP, Nomor Piro Wani Piro. dst.. dst..

Bagi saya, umur demokrasi kita masih muda. Bagi negara-negara maju dengan sistem demokrasi yang lebih lama juga memiliki tantangan-tantangannya sendiri. Yang terpenting adalah kemauan kita semua untuk terbuka atas setiap koreksi. Kita bersyukur masih memiliki entitas agama dan individu-individu cerdik pandai yang pada posisi tertentu selalu mengambil peran. Posisi lembaga-lembaga atau pribadi-pribadi mereka ini berperan penting untuk memberikan masukan kritis, sekaligus penyejuk. Bagi saya mereka inilah yang sejatinya menjadi guru bangsa. Menjadi bandul bagi banyak faksi bernegara. Memang tak semua. Tapi setidaknya berbalut organ-organ institusi, maupun track record baik yang mereka miliki secara pribadi, agenda-agenda perubahan menjadi lebih mendapatkan garansi.

Disclaimer;
Foto mungkin tidak relevan dengan substansi. Namun saya ingin mengapresiasi legislator dari PAN ini yang memiliki dedikasi tinggi atas setiap pembahasan berbagai materi persidangan di DPRD Sumut. Saudaraku Yahdi Choir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *