Oleh : Warno Hadi
Warna Merah Putih dianggap keramat.
Dua warna sejoli warisan leluhur ini, merupakan lambang daya hidup. Tegar hingga saat ini, jati diri turun temurun Bangsa Indonesia.
Menurut lembaga peneliti Sejarah/Arkeologi bahwa peradaban memuliakan warna merah putih sejak 6000 tahun silam. Peristiwa itu kala berpindahnya rumpun Bangsa dari daratan Yunan (Cina) Borson Hoabinm Asia Timur. Dalam menyelamatkan diri menyeberangi Lautan (manusia perahu). Pengungsian ini terdesak oleh rumpun bangsa yang datang dari sebelah Utara. Kala itu, peradaban mereka masih Budaya Hukum Rimba, siapa yang kuat dia yang menang.
Rumpun bangsa ini hidup menetap di sebelah Selatan. Tempat pemukiman itu menurut J Smith (Sarjana Sejarah Australia) Wilayah “AUSTRONESIA”.
Daratan yang berada antara sebelah Timur Pulau PASCH Samudra Pasifik sebelah Barat Pulau Madagaskar sebelah Utara Pulau Formosa dan Selatan Kepulauan Selandia Baru. Perjalananya terus berlanjut menuju ke arah NUSANTARA melalui pulau Formosa-Filipina atau wilayah semenanjung Malaka.
Bersamaan itu lah tersebarnya paham memuliakan warna Merah Putih. Kepercayaan mereka
di sebut “ADITYA CANDRA”. ADITYA = SURYA/Matahari berwarna Merah. Sedang CANDRA = REMBULAN berwarna Putih, kedua warna ini mereka anggap memiliki daya yang sakti.
Berikutnya terjadi pengungsian gelombang kedua lebih kurang 4000 tahun silam. Mereka juga menetap menjadi Bangsa Austronesia.
Suasana ini juga dibarengi keyakinan paham memuliakan warna Merah Putih. Ada sumber daya kekuatan pada Mahluk yang bergerak sesuai kondisinya. Seperti Tubuh Manusia memiliki Darah warna Merah, dan pada tumbuhan punya Getah berwarna Putih. Menurutnya kedua warna itu memiliki sumber daya khusus.
Pengungsian gelombang pertama 6000 tahun silam dan gelombang kedua 4000 tahun silam hidup menyatu bersama Manusia Purba yang hidup di Nusantara.
Fosilnya ditemui di Trinil Ngandong Sangiran Jawa Tengah. Tiga jenis Rumpun Bangsa ini menjadi cikal bakal leluhur Nusantara, terjadi di Zaman Pra Sejarah.
Pujangga Agung Resi Walmiki penggubah Mitos RAMAYANA menyebut bila Pulau Sumatera dan Pulau Jawa juga melukiskan Warna Merah dan Warna Putih.
Seperti di Candi terdapat Relief berukiran kembang Teratai yang berbunga Merah ketika mekar di siang hari. Dan yang berbunga Putih mekar di malam hari.
Setelah Bumi Nusantara dijajah Belanda, Bendera Merah Putih dilarang dikibarkan. Namun Sri Susuhunan
Raja Surakarta tetap mengibarkan Umbul-umbul Warna Merah Putih. Juga saat perang Diponegoro melawan Penjajah Belanda juga mengibarkan Bendera Gula Kelapa (Merah Putih).
Zaman Pra Sejarah Merah Putih diartikan kepercayaan “Daya Hidup”. Dan di Zaman Kuno warna Merah Putih diartikan Darah dan Getah.
Dr Rajiman Widyo Diningrat (1937) dalan sebuah Majalah Kajiwan Jawi, menyatakan bila Warna Merah Putih diilhami cara orang membuat Gula, yang sudah dikerjakan sejak zaman dahulu kala. Pertama tangkai bunga kelapa di potong oleh pisau yamg tajam. Lantas keluarlah Air (Nira) Putih bersih ditadah dengan Bumbung terbuat dari bambu.
Setelah dipanen lalu direbus, ketika masak, warnanya berubah jadi Merah kecoklatan. Terus dicetak namanya gula, di sebut Gula Kelapa.
Justru Umbul-umbul warna Merah Putih itu dinamakan Bendera GULA KELAPA dan berkibar saat Perang Diponegoro berkecamuk.
Bendera Pusaka yang asli di awali Tahun 1944 saat Indonesia diduduki Pemerintah Jepang. Saat itu, Bangsa Indonesia dibolehkan mengibarkan Bendera Merah Putih juga menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun cuma boleh dalam gedung saja.
Bahan untuk membuat Bendera Pusaka diberi oleh seorang Perwira Jepang. Kala itu, di Jawa belum ada menjual bahan Textil yang baik untuk dibuat Bendera Pusaka. Sementara yang
menjahit Bendera Pusaka ialah Ibu Fatmawati istri Bung Karno.
Bendera Merah Putih (bukan Bendera Pusaka) juga pernah dikibarkan sebelum Indonesia Merdeka, yaitu dikala Rapat Pemuda dan Mahasiswa di Jakarta 28 Okt 1928 yang kemudian di sebut “Sumpah Pemuda”.







