Penulis : WARNO HADY
Setiap timbul kasus Kriminalitas, seperti perampokan pembunuhan maupun sejenisnya, mungkin asumsi orang memandang dan menilai itu sebuah Kejahatan. Walau bila dicermati sebenarnya banyak macam jenis Kriminalitas yang diperbuat manusia yang masuk katagori Kejahatan. Kadang timbulnya tidak selalu transparan semu disaat ada persaingan tertentu, malahan tampak akrab dan santun.
Konglomerat dengan mudah membuka usaha, memproduksi komoditi yang sama dengan Pengrajin kecil di sekitarnya, akibat persaingan yang tidak berimbang si pengrajin kecil bisa terbenam usahanya. Ide perilaku ini boleh disebut jahat, kecuali si pemodal besar bersedia mendidik dan menjadi “Bapak Angkat”.
Seorang Penguasa dipercaya memegang sebuah Departemen atas kebijakan yang sangat gesit mampu menekan Anggaran serta meningkatkan kwalitas pekerjaan semaksimal mungkin plus di bawah ketetapan Anggaran. Mungkin ini bisa di sebut Pemimpin yang ulet dan bijak di mata atasanya.
Namun sebaliknya bukanlah pemimpin yang arif bijaksana di mata pekerja bawahanya bila tidak peka untuk kesejahtraan pekerja atau karyawanya.
Karena dia hanya bisa berbuat sepihak yang dirinya sendiri mendapat pujian dan keuntungan. Sebab, tidak Arif memperhatikan nasib bawahanya yang turut jerih payah membantu.
Kemudian apakah ini tidak katagori Jahat….?
Mencermati banyaknya tokoh yang berkompitisi untuk sebuah jabatan nomor sat daerah maupun pusat, melalui jalur politik, dorongan ambisi guna menembus keinginan dengan pola memperalat organisasi/massa sebagai penerobos cita-cita.
Sepertinya lebih jahat bila itu keinginan individu pribadi, sebab, melibatkan orang banyak. Artinya dia bukan sendiri. Bahkan bila perjuangan itu mendapat bencana, orang
lain juga terkena getahnya. Apalagi tokohnya mengatas namakan Kesejahtraan.
Padahal pencapaian tersebut semata-mata murni buat dirinya/keluarganya atau orang terdekat saja.
Apakah ini juga tidak di sebut Jahat…?
Derasnya arus Budaya luar mendesak dalam kehidupan remaja sehari-hari.
Seakan telah merubah gaya hidupnya telah hanyut menjadi Konsumerisme tinggi yang cenderung melupakan Budaya sendiri.
Sementara karakter Budaya Leluhur tetap mengutamakan Norma Kesusilaan dan Etika. Coba sesekali menyaksikan Penyanyi Musik Organ tunggal/Keyboard, kadang berbusana cuma satu jengkal di bawah pusat, ini sudah merupakan tontonan biasa. Sementara mulai anak-anak sampai dewasa/tua menyaksikan. Mereka menganggap hal itu makin trendi diundang sebagai hiburan Pesta Keluarga.
Sepertinya belumvpernah ada teguran protes Masyarakat, padahal gayanya erotis dan anak anak pun jadinya meniru. Apakah ini juga bukan awal Kejahatan….?
Mencermati pengaruh bagi anak, mungkin tidaklah terlalu sulit selaku orang tua di rumah. Penekanan lebih mengarah pada tuntunan budi pekerti maupun ajaran Agama. Agar anak tidak sepenuhnya menelan gaya dari luar rumah, namun lebih condong pada tradisi yang ditegakan dalam rumah tangga.
Kembali mengamati berbagai prilaku sebenarnya panduanya pada kelembagaan hati yang membangun moral baik atau buruk.
Kelembagaan hati harus kontiniu terus menerus dilatih menuju kemurnian Sejati.
Bagaimana bila seseorang tidak memiliki hati nurani..?
Yang pasti dia berwatak kejam dan tegaan. Meski hati sukar dideteksi, sebab kita tidak dapat melihat begitu saja pribadi seseorang tanpa melalui jahir. Bisa terjadi orang yang berwajah kejam namun hatinya mulia, dan demikian sebaliknya.
Hati yang jahat terdapat pada siapa pun juga, berprofesi apa saja tergantung atau memang sudah memiliki profesi jahat. Pencuri bisa saja terdapat bagi Politikus, Pengusaha, Pejabat, hanya pola melakukanya yang berbeda. Sebuah penomena yang mencengangkan di saat kita menyaksikan bertambah serta ketatnya Peraturan Hukum dan berbagai sangsi, namun kejahatan semakin merajalela.
Sepertinya para pelaku tindak kejahatan tetap jauh dari rasa jera. Seolah menguji
Peraturan yang akan menjerat dirinya.
Rasanya dengan niat yang tulus tentu dapat mendeteksi kelembagaan hati kita, sebaliknya sudah terbiasa atau sekali terlanjur jahat lantas menyadari.
Coba di uji .. Sanggupkah menahan rasa Pamrih disaat orang membutuhkan..?
Mampukah tidak berbohong di saat memburu ambisi..?
Sebab itu yang penting menjadi perhatian.
Akhirnya, agar tidak timbul kejahatan luar serta apa pun yang akan terlahirkan mestinya harus lebih dahulu kriminalitas hati dipadamkan.
Mengoreksi diri memang tidak mudah, tapi juga bukan sulit, asal saja siap dalam menjaga hati. Kesejahtraan secara luas adalah terjaganya moral dan juga moral selalu bergandengan satu sama lain. Yakni disaat pemimpin kurang bermoral baik, sudah tentu yang di bawah terkontaminasi buruk.
Maka jangan harapkan Kriminalitas/ Kejahatan akan dapat rerjaga bila moral yang di dalam sudah terganggu… Baik kejahatan apa pun juga….
SEMOGA…..






