12 Tahun Membuat Gula Aren, Muriani Berhasil Antar Anak Jadi TNI

oleh -3 Dilihat

KransNews.com | Simalungun – Di balik kepulan asap dari dapur sederhana tempat gula aren dimasak, tersimpan kisah perjuangan sebuah keluarga di Huta III, Nagori Tanjung Hataran, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun.

Adalah Muriani (52), perempuan yang selama 12 tahun terakhir menggantungkan kehidupan keluarganya dari usaha membuat gula aren. Bersama suaminya, Ponimin (49), ia menjalani pekerjaan tersebut dari hari ke hari demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menyekolahkan kedua anak mereka.

Setiap hari, Muriani mampu menghasilkan sekitar 20 kilogram gula aren. Hasil produksi itu kemudian dijual dengan harga sekitar Rp25 ribu per kilogram.

Bagi Muriani dan Ponimin, pekerjaan tersebut bukan sekadar untuk mendapatkan penghasilan. Dari hasil mengolah nira aren itulah, mereka perlahan mewujudkan harapan untuk masa depan anak-anaknya.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Anak pertama mereka kini telah menyelesaikan pendidikan dan menjadi anggota TNI yang bertugas di Merauke, Papua. Sementara anak kedua masih menempuh pendidikan di kelas I SMA.

Kisah tersebut disampaikan Muriani saat menerima kunjungan Rospita Br Purba, istri Wakil Bupati Simalungun, yang melihat langsung dapur pengolahan gula aren milik keluarga tersebut, Senin (28/9/2026).

Di balik produksi gula aren, Ponimin juga menjalani pekerjaan sebagai penderes. Setiap hari ia mengambil nira dari pohon-pohon aren yang tumbuh di lahan miliknya.

Dalam sehari, dari ratusan pohon aren yang dimiliki, Ponimin dapat memperoleh sekitar 200 hingga 400 liter nira. Nira tersebut kemudian diolah menjadi gula aren yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.

“Pohon aren kami hampir 400 pokok,” ujar Ponimin.

Selain mengelola pohon aren, Ponimin juga memanfaatkan waktunya dengan beternak lembu.

Kehidupan keluarga Muriani dan Ponimin mungkin jauh dari kemewahan. Namun, dari dapur sederhana dan tetesan demi tetesan nira aren, mereka mampu membangun harapan untuk kedua anaknya.

Satu anak telah mengabdi sebagai prajurit TNI di ujung timur Indonesia. Sementara satu lagi masih duduk di bangku SMA dan melanjutkan cita-citanya.

Bagi keluarga ini, gula aren bukan sekadar hasil dari pohon yang mereka rawat. Gula aren telah menjadi bagian dari perjalanan panjang mereka dalam membangun masa depan keluarga. (RZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha