KKN Harus Turun ke Akar Rumput, Bukan Sekadar Turun Foto

oleh -3 Dilihat

Oleh : Al-Hakim Triwansyahputra Damanik

Sekretaris IPM Kabupaten Simalungun

KransNews.com – Kampus sering disebut sebagai “menara gading”. Tempat berdiskusi gagasan besar, menulis jurnal, dan merumuskan solusi untuk bangsa. Tapi gagasan tanpa turun ke lapangan hanya akan jadi wacana.

Karena itu kehadiran 32 mahasiswa FAI UMSU di Kelurahan Kebun Lada, Binjai Utara, selama 10 hari ke depan patut kita apresiasi. Bukan karena jumlahnya banyak. Bukan juga karena seragam birunya rapi saat foto bersama. Tapi karena tema yang mereka usung: _”UMSU untuk Masyarakat dan Dukung SDGs”_.

SDGs sering kita dengar di seminar, di slide presentasi, di proposal. Tapi di akar rumput, SDGs itu wajahnya sederhana: anak yang bisa baca tulis, ibu-ibu yang punya usaha kecil, lingkungan yang tidak banjir sampah, dan warga yang paham cara mengelola keuangan.

Di titik inilah KKN FAI UMSU menarik. 4 prodi yang berbeda justru saling mengunci.
PAI dan PIAUD menyentuh SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas.
Perbankan Syariah masuk ke SDGs 1 dan 8 tentang kemiskinan dan ekonomi.
Manajemen Bisnis Syariah menyasar SDGs 8 dan 12 tentang UMKM dan konsumsi bertanggung jawab.
Agama di sini tidak berhenti di mimbar. Agama turun menjadi solusi ekonomi, pendidikan, dan sosial.

Ini penting. Karena selama ini kita terlalu sering melihat pengabdian kampus berhenti di “kegiatan”. Pojok baca dibuat, difoto, lalu ditinggal. Penyuluhan dilakukan, absen dikumpulkan, lalu selesai. Warga kembali jadi penonton di wilayahnya sendiri.

Padahal “UMSU untuk Masyarakat” itu kata yang berat. “Untuk” berarti harus memberi manfaat yang bisa dirasakan setelah mahasiswa pulang. “Dukung SDGs” berarti harus terukur. Berapa anak yang naik kemampuan membacanya. Berapa UMKM yang pembukuannya jadi rapi. Berapa warga yang mulai menabung lewat prinsip syariah.

10 hari memang tidak akan mengubah Kebun Lada 180 derajat. Tapi 10 hari cukup untuk 3 hal: mendengar, memetakan dan meninggalkan 1 program yang bisa diteruskan.

Kunci keberhasilannya hanya satu: jangan jadikan warga sebagai objek. Jadikan mereka subjek. Duduk di teras, ngopi bareng, tanya apa yang paling mereka butuhkan. Bukan datang membawa program yang sudah jadi dari kampus.

Kampus Muhammadiyah punya sejarah panjang dekat dengan masyarakat. Dari rumah sakit, sekolah, sampai panti asuhan. KKN di Kebun Lada ini adalah ujian apakah semangat itu masih hidup. Apakah perguruan tinggi masih mau kotor-kotoran, mendengar, dan bekerja bersama.

Kalau 32 mahasiswa ini pulang membawa data, dan warga Kebun Lada pulang membawa solusi, maka KKN ini tidak gagal.

Karena pada akhirnya, kampus terbaik bukan yang paling tinggi gedungnya. Tapi yang paling dekat dengan masalah rakyatnya.

Semoga 10 hari ini jadi awal, bukan akhir. Awal kemitraan panjang antara UMSU dan Binjai Utara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Are you human? Please solve:Captcha