Kransnews.com | Simalungun —
Di sebuah rumah sederhana berdinding tepas dan berlantai tanah di Kampung Dalam, Nagori Sugaran Bayu, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, hidup seorang nenek yang tak pernah menyerah pada keadaan. Namanya Nek Marni (62). Di usia senjanya, ia harus memikul beban yang tak ringan: mengasuh dan menghidupi tiga orang cucunya seorang diri.
Duka itu masih terasa begitu dekat. Baru sepekan lalu, Susanti—anak perempuan yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarga kecil itu—menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan penyakit paru-paru. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, sekaligus tanggung jawab besar di pundak Nek Marni.
Di dalam rumah yang jauh dari kata layak, tanpa lantai semen dan dinding kokoh, Nek Marni kini menjalani hari-harinya bersama tiga cucu yang masih membutuhkan perhatian penuh. Satu cucunya masih duduk di bangku kelas 6 SD, sementara dua lainnya masih balita, masing-masing berusia sekitar tiga tahun.
“Kalau soal makan, ya apa yang ada itulah yang dimakan,” ucapnya lirih saat ditemui, Selasa (24/3/2026). Suaranya pelan, namun sarat ketegaran. Tidak ada penghasilan tetap. Hanya harapan yang terus ia genggam, agar cucu-cucunya tetap bisa bertahan hidup.
Selama ini, bantuan datang dari Program Keluarga Harapan (PKH) serta uluran tangan para dermawan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Namun, kebutuhan hidup yang terus berjalan membuat bantuan itu terasa belum cukup.
Kisah pilu keluarga ini juga diwarnai kendala administrasi. Saat Susanti masih hidup, upaya pengurusan BPJS terkendala karena tidak memiliki KTP Simalungun. Meski telah mencoba meminta bantuan kepada perangkat nagori, harapan itu belum juga menemukan jalan keluar.
Kini, di tengah keterbatasan fisik yang kian renta, Nek Marni hanya bisa pasrah sekaligus terus berjuang. Ia tak punya pilihan lain selain tetap kuat demi masa depan tiga cucunya.
Setelah kisahnya mulai dikenal luas, secercah harapan pun datang. Sejumlah pihak tergerak memberikan perhatian dan bantuan, di antaranya Gerpasi (Gerakan Pemekaran Simalungun), Komunitas Relawan North Sumatera (KRNS), Repoeblik Cendol, serta Ahmad Fauji Sirait. Dukungan itu menjadi nafas baru bagi Nek Marni untuk terus melangkah.
Namun di balik itu, masih terselip harapan dari warga sekitar. Mereka berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah setempat, terutama dalam hal pengurusan administrasi kependudukan yang menjadi kunci akses bantuan yang lebih luas.
Di rumah sederhana itu, di atas lantai tanah yang dingin, Nek Marni tetap berdiri sebagai benteng terakhir bagi tiga cucunya. Meski hidup serba kekurangan, kasih sayangnya tak pernah berkurang. Dalam diam, ia mengajarkan satu hal yang tak ternilai: tentang keteguhan hati seorang nenek yang tak pernah menyerah, bahkan saat hidup terasa begitu berat. (RZ)






