KransNews.com | Simalungun – Di sudut kampung Nagori Naga Jaya I, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, di rumah yang dibangun perlahan dari hasil kerja keras sehari-hari, sujiono menyimpan mimpi besar, membimbing generasi penghafal Qur’an. Dengan dukungan istri dan anaknya, rumah Tahfiz itu kini berdiri meski sederhana, dan telah menjadi tempat tinggal bagi empat santri yang mulai menapaki jalan penghafalan.

Suasana di Rumah Tahfiz Sohibul Qur’an sangat asri, banyaknya pohon duku, jengkol, rambutan dan beberapa pohon produktif lainnya menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari untuk menembus tanah.
Di tempat asri ini lah, pria sederhana yang kini berusia 55 tahun itu memulai niat mulianya itu sejak tahun 2021 silam. Di lahan seluas sekitar 4 Rante itu, Sujiono dan Dian Sulastri (52 tahun) menapaki mimpi mereka. Mereka mulai membangun rumah sederhana dari papan yang dengan luas bangunan hanya sekitar 6X7 meter persegi dengan dua lantai.
Di sisi luar bangunan rumah, terlihat jejeran kamar mandi sederhana dengan beberapa bilik dan sekitar 5 meter dari kamar mandi itu ada sebuah musala (mushola) yang berkonsep joglo tanpa dinding pembatas. Tepat di belakang musala itu, juga ada sebuah kamar ukuran 3×4 meter yang peruntukannya sebagai tempat tinggal 4 santri yang menetap di Rumah Tahfiz Sohibul Qur’an.
Memasuki usia senjanya, pasangan suami istri ini hanya ingin mewujudkan mimpi mereka untuk mewadahi anak-anak yang ingin belajar agama. Selain 4 orang santri, keluarga ini juga mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak sekitar tempat tinggal mereka.
Meski hidup sederhana dengan segala keterbatasannya, ia tak pernah membebani biaya kepada para santri, baik yang menetap ataupun hanya sekedar mengaji.
Santri yang tinggal merupakan anak yang datang dari kalangan berbeda, dengan kondisi mental yang berbeda. “Kalau cobaan selalu ada, kami cuma ingin anak-anak yang orang tuanya tak mampu menyekolahkan, memberikan pendidikan agama atau pengen mondok di pesantren gak terbebani lagi. Kami ikhlas lahir batin untuk mendidik mereka, menyekolahkan mereka,” katanya.

Dikatakan pria yang mengenakan baju Koko ini, dulunya para santri yang menetap harus tidur di musala, karena memang tak punya biaya untuk membangun kamar. Seiring berjalannya waktu, dengan keterampilannya membuat bangunan dari kayu, ia perlahan mulai membangun sebuah ruangan kecil yang kini dihuni oleh para santri.
“Kalau ada rezeki, kami selalu sisihkan untuk membeli papan, Alhamdulillah sekarang anak-anak sudah punya kamar, walaupun kecil. Sekarang kami lagi berusaha membangun kamar lagi, walaupun nyicil beli bahannya, intinya bangunnya pelan-pelan,” ucapnya.
Kesederhanaan dan dekat dengan alam adalah konsep dari pondok tahfiz ini. Para santri juga diajarkan cara berkebun, mengelola sampah organik agar bisa menjadi pupuk.
“Kita menerapkan sistem ketahanan pangan mandiri, kemarin anak-anak mulai menanam ubi kayu, ubi rambat (jalar, red), ternak ayam sama ikan lele,” ucap ayah 3 anak ini.
Untuk memenuhi segala kebutuhan seperti makan, bayar listrik dan keperluan lainnya. Keluarga ini hanya tergantung pada donatur ataupun kedua anaknya yang bekerja di Kota Medan dan Jakarta.
“Alhamdulillah, anak kami yang paling kecil dulunya pernah mondok (pesantren, red) di Bogor. Jadi dia bisa bantuin kami mengajari anak-anak. Kalau kebutuhan, namanya manusia ada saja kebutuhannya, selagi kita bersyukur. Insyaallah ada saja jalan dari Allah,” katanya dengan nada penuh ketegasan.
“Memang anak yang tinggal di tempat kami ini masih ada orang tuanya. Mungkin karena keterbatasan biaya untuk mondok, anak mereka dititipkan ke kami, dengan tangan terbuka kami menerima mereka karena memang itulah mimpi kami. Hanya satu yang yatim piatu dan semua sudah kami anggap anak kandung kami, tak pernah kami membeda-bedakan mereka,” ucapnya lagi menambahi.
Masih banyak yang ingin mereka capai, termasuk mendirikan bangunan yang layak bagi anak-anak. Membuat yayasan yang berbadan hukum dengan konsep pesantren gratis. “Kami ingin mendirikan yayasan atau pesantren gratis. Jadi anak-anak dan para orang tua di luar sana, tak perlu lagi memikirkan biaya untuk pendidikan mereka. Banyak anak-anak yang tak lagi mondok karena terkendala biaya. Kami hanya ingin mereka diberikan tempat yang tepat bagi mereka,” ucapnya mengakhiri. (LD)








