Istri di Aceh Singkil Bongkar Tabiat Suami: Diceraikan Jelang Dilantik Jadi PPPK

oleh -503 Dilihat

KransNews.com | Aceh Singkil – Kisah pilu datang dari seorang wanita bernama Melda Safitri, warga Aceh Singkil, yang mengaku diceraikan oleh suaminya hanya beberapa hari sebelum sang suami dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada Agustus 2025 lalu.

Kisah tersebut diungkapkan Melda dalam wawancara bersama Serambinews, Selasa (21/10/2025). Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana dirinya ditinggalkan setelah bertahun-tahun berjuang bersama dari nol.

“Dia pulang kerja, sudah sore, terus marah-marah karena tidak ada kawan nasi (lauk) di rumah. Padahal, saya mau masak saja bingung, karena tidak ada bahan makanan sama sekali,” ujar Melda.

Pertengkaran itu berlanjut hingga malam. Sang suami yang sempat keluar rumah bersama rekannya, pulang larut malam dan masih melanjutkan amarah keesokan harinya. Melda mengaku sempat membalas ucapan suaminya karena kesal.

“Saya bilang, kamu tidak kasih belanja, jadi apa yang mau saya masak? Terus dia makin marah. Saya pergi cuci piring karena capek ribut terus,” kenangnya.

Tak lama kemudian, suaminya tiba-tiba mengemasi pakaian dan pergi meminjam sepeda motor ke rumah tetangga. Saat kembali, ia langsung melontarkan kata cerai.

“Dia langsung bilang ke saya, ‘Kamu Fitri, saya ceraikan 1, 2, 3,’ lalu pergi membawa bajunya,” tutur Melda.

Tiga hari setelah kejadian itu, tepat 18 Agustus 2025, sang suami dilantik menjadi PPPK. Menurut Melda, perceraian tersebut bukan semata karena pertengkaran rumah tangga, melainkan karena ambisi sang suami yang akan menempati jabatan baru.

“Dia ceraikan saya karena mau jabatan. Padahal kami dulu berjuang bersama. Saya sempat berharap setelah dia dilantik, keadaan ekonomi kami membaik,” ucapnya lirih.

Melda mengaku selama ini telah banyak berkorban untuk mendukung suaminya. Ia bahkan membeli perlengkapan pelantikan, termasuk baju dan atribut Korpri, dari hasil berjualan cabai, sayuran, dan gorengan di pasar.

“Bajunya dia yang pesan di Shopee, tapi saya yang bayar pakai uang hasil jual gorengan. Saya bantu dia dari nol, dari belum kerja sampai lulus PPPK. Tapi malah saya ditinggal sebelum dia terima SK,” tuturnya.

Kini, dua bulan setelah perceraian secara lisan itu, Melda masih bertahan hidup dengan berjualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumah. Dari hasil tersebut, ia menghidupi dua anaknya yang masih kecil.

Ia menambahkan, mediasi bersama orang tua dan kepala desa telah dilakukan, namun sang suami tetap bersikeras menceraikan dirinya.

“Katanya dia memang sudah mau ceraikan saya dari dulu, tapi waktu itu saya masih hamil,” ungkapnya.

Melda juga menceritakan, sejak awal pernikahan pada 2020, hubungan dengan mertua memang kurang harmonis. Sang ibu mertua kerap ikut campur urusan rumah tangga.

“Suami saya dulu pernah bantu saya cuci piring dan mencuci pakaian. Tapi hal itu malah dibicarakan ke tetangga, katanya anaknya di-budak-budak oleh saya,” ucap Melda dengan mata berkaca.

Kini, ia hanya berharap bisa terus menghidupi anak-anaknya dengan usaha kecil yang dijalani, meski tanpa sosok suami di sisinya.

Sumber: Medan Daily

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *