S U M P A H

oleh -317 Dilihat

Oleh : Warno Hadi

KransNews.com – Setiap terjadi jalinan kasih, kadang sampai mengucapkan kata sumpah bermacam-macam sumpah. Ada sumpah setia, sumpah janji, sumpah sabar menunggu. Pokoknya notabene yang dapat meyakinkan seseorang.

Media sumpah menjadi sarana memperkuat kepercayaan. Sumpah dinobatkan sebagai pengikat yang erat. Bahkan sampai tidak disadari betapa beratnya menanggung jawaban dari ucapan sumpah itu. Tatkala sumpah meluncur mulus dari mulut, niscaya sumpah itu tidak dari hati. Mungkin sumpah itu hanya singgah di otak, yang suhunya penuh akal-akalan, masih dikendalikan oleh pikiran.

Rasanya dapat dicerna dalam berbagai aspek bahwa otak selalu punya peran terus menerus, tanpa disertai qolbi (hati). Niscaya hasilnya tertumpu pada kegersangan nilai. Sebab, otak mengendalikan dengan pola pikir “selalu merasa bisa” namun tidak “selalu bisa merasa”. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, segala aspek sebaiknya dibarengi dengan hati nurani.

Mau tidak mau, otak dan hati harus berjalan beriringan dalam kehidupan. Walau berangkat dari sisi negatif, hubungan itu bisa mengarah ke hal positif. Dalam lingkup luas, sebaiknya otak dan hati selalu akrab secara intim. Demikian pula seharusnya hubungan pria dan wanita. Hubungan cinta kasih itu tercipta karena hati yang tertambat, hingga lahir hubungan sejati.

Namun, hati pun bisa dihinggapi “virus” yang menyebabkan penyakit hati, seperti iri, dengki, dan tamak. Hal ini diekspresikan oleh otak lalu membeku menjadi sifat keakuan. Misalnya:
“Kalau tidak karena aku, bangunan masjid itu tidak akan selesai.”

“Kalau tidak karena aku, perampok itu tidak tertangkap.”

Itulah sifat keakuan hati yang kurang terawat. Seandainya sifat itu mewarnai jalinan kasih, maka akan ada pemaksaan untuk dikasihi dari satu pihak. Jelas cinta kasih itu tidak berjalan seimbang secara alami.

Sumpah palsu adalah ucapan sia-sia. Walau bagaimanapun, sumpah tetaplah beban dan tuntutan, sekaligus dosa.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak sejarah perjuangan nasional, yang tidak lama lagi akan kita peringati. Cetusan yang sangat bermakna dari para pemuda ini menjadi arah yang lebih pasti meski penuh risiko. Adanya sumpah itu menjadi momen kesungguhan perjuangan bangsa, pembulatan tekad, serta penghapus keraguan.

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa menjadi dasar persatuan dan kesatuan yang wajib dijaga keutuhannya kapan pun dan bagaimana pun keadaannya.

Namun, saat ini zaman sudah jauh berubah, sehingga memengaruhi pola pikir manusia. Rasa solidaritas nyaris hilang. Pola pikir bergeser, hingga banyak orang menggantungkan diri pada materi. Mereka yang punya materi berlimpah, segalanya mudah didapat. Bahkan kebenaran pun bisa dibeli. Segala sudut bisa diatur dengan materi.

Trenyuh hati ini bila menyaksikan ada yang untuk makan saja sulit, bahkan sampai anak perempuan satu-satunya harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri orang. Lantas, bila kita berada dalam posisi demikian, apakah masih mampu menahan hati untuk tidak terbalut rasa iri?

Melihat kehidupan mewah di kanan kiri, rasa iri dan dengki memang tidak seharusnya muncul. Namun kenyataannya, saat melihat ketimpangan, hati ini tetap terasa tertekan—meski hanya bisa bergumam. Sudah pasti bukan demikian yang diharapkan oleh Sumpah Pemuda. Persatuan, kesatuan, dan persaudaraan hidup mestinya saling menopang.

Negeri ini bukan milik perseorangan atau golongan. Negeri ini milik bersama, yang dasarnya adalah saling mengasihi, negeri tempat kelahiran kita dan para leluhur. Kini rasa persatuan itu kian mengkhawatirkan, makin menipis. Yang terlihat justru hanya draf individualis.

Apakah kita sudah lupa, atau sengaja melupakan cetusan Sumpah Pemuda? Apakah hanya sekadar kumandang yang diperingati setiap tahun, tanpa penghayatan makna luasnya?

Bagi putra-putri generasi penerus bangsa, nilai luhur Sumpah Pemuda—baik sebagai ajaran moral maupun teladan—seharusnya menjadi ikatan keteladanan. Bukankah sumpah, apa pun itu, akan menjadi kebohongan bila hanya terucap tanpa bukti perilaku?

Semoga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *