KransNews.com | Simalungun – Siswa Madrasah Aliyah Nageri (MAN) Pematang Bandar beberapa waktu lalu melakukan protes terhadap komite sekolah karena uang hasil patungan untuk membeli mobil tak terealisasi. Mereka harus menunggu hampir 3 tahun lamanya hingga akhirnya mobil tersebut dibeli pihak komite.
Menurut keterangan dari salah seorang siswa, sejak awal mula masuk sekolah mereka dimintai uang sebesar Rp 700 ribu, uang tersebut diperuntukkan biaya pembelian mobil, baju batik, baju olahraga dan biaya pembangunan.
“Waktu itu kami baru masuk om, sampai kami kelas 12 (3 SMA, red) mobil yang katanya mau dibeli belum ada. Makanya sebulan yang lalu kami protes,” ucap salah seorang siswa beberapa waktu lalu.
Awak media mencoba mengkonfirmasi hal tersebut ke sekolah, pada Rabu (19/03/2025) siang, Zulpandi Nasution, Kepala Sekolah MAN Pematang Bandar mengakui bahwa beberapa tahun lalu pihak Komite sekolah sepakat untuk membeli mobil operasional siswa. Saat itu, siswa baru dikenakan dana sebesar Rp 250 ribu, untuk Kelas X dibebankan Rp 150 ribu dan XI dibebankan Rp 100 ribu per siswa.
“Tadi pagi mobilnya sampe, kita beli mobil Isuzu Elf tahun 2017, kemarin kita beli harganya Rp 175 juta. Kenapa lama dibeli, karena uangnya belum cukup kemarin, jadi kita cari tambahan dulu,” ucapnya.
Ia menambahkan, uang yang terkumpul saat itu sekitar Rp 80-juta. “Mobilnya masih dibawa ke bengkel, mungkin lagi di servis,” katanya.
Saat ditanya apakah boleh dilakukan pengutipan kepada siswa, pria yang tinggal di Kota Pematangsiantar ini mengatakan kebijakan tersebut sudah sesuai musyawarah para orang tua. “Itu hasil musyawarah komite dengan para orang tua,” jawabnya. (SN/RZ)






