Sepenggal Kisah Kerajaan Mataram. Ki Ageng Mangir Wonoboyo

oleh -778 Dilihat
Situs petilasan Ki Ageng Mangir.

Bila sekali waktu pesiar ke Kota Gede Yogyakarta, di sana akan ditemui bekas Keraton Kerajaan Mataram Islam. Demikian juga akan ditemui sejumlah Makam Raja Mataram pertama Panembahan Senapati beserta keluarganya.

Di antara beberapa makam di Komplek Pemakaman itu, ada sebuah makam yang agak aneh terlihat posisi letaknya. Dimana letak posisi kuburan itu separuh berada di dalam pagar Komplek Kuburan, sedangkan yang separuhnya berada di luar Pagar (Cepuri Jawa). Seolah-olah pagar makam itu membagi dua kuburan tersebut. Setengah ada dalam pagar dan setengah di luar pagar.

Makam itu memang sengaja dibangun demikian letaknya, bukan karena pagarnya yang salah. Rupanya makam siapa kah itu…? Kenapa dan bagaimana demikian…? Nah…. demikian Kisahnya.

Orang yang dikubur di situ adalah bernama Ki Ageng Mangir, yang disaat hidupnya selalu membangkang perintah Raja Mataram Panembahan Senapati. Tercium oleh sandi Kerajaan bila Ki Ageng Mangir sedang menyusun kekuatan akan berbuat Makar memberontak menggulingkan Raja Mataram. Namun sebaliknya dengan cara yang halus Ki Ageng Mangir dapat musnahkan melalui kelembutan wanita.

Panembahan Senapati Raja Mataram pertama termashur memiliki kesaktian luar biasa. Dia bisa berjalan di atas air laut, menurut mitos, ia bersahabat dengan Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. Wilayah kerajaanya cukup luas. Namun tiba-tiba seorang bernama Ki Ageng Mangir dari wilayah Wonoboyo merencanakan pemberontakan untuk menggulingkan kedudukan Raja Mataram Panembahan Senapati.

Menurut perhitungan bila dilawan perang fisik pasti kalah. Sebab diketahui kalau Ki Ageng Mangir memiliki sebuah senjata pusaka yang sangat sakti bernama Kiyai Baru Klinthing. Kemudian Panembahan Senapati mengatur siasat halus bagaimana cara mengalahkanya. Baru setelah melalui putrinya yang cantik jelita bernama Putri Pembayun, Ki Ageng Mangir dapat ditaklukkan tanpa adanya peperangan.

Walau di sini Putri Pembayun harus wajib menjalani tugas yang berat, demi keselamatan Kerajaan Mataram, juga demi ke wibawaan ayahhandanya, Panembahan Senapati. Lantas Panembahan Senawati membentuk sebuah kelompok Kesenian. Ditunjuk selaku pimpinan adalah Adipati Mertalaya dengan berpura-pura sebagai Ayah Putri Pembayun. Kemudian Kesenian itu pun keliling mengadakan pertunjukan se-wilayah Mataram. Selaku penarinya adalah Putri Pembayun yang menyamar nama menjadi Adiwaty. Kelompok Kesenian ini jadi terkenal se-antero Mataram, dikarenakan terpikat atas kecantikan Adiwaty. Banyak diantara Bupati yang mengundang untuk mengadak pertujukan seraya terpesona menyaksikan kelembutan penarinya yang memang ayu. Tak mengherankan bila berita ini terdengar oleh Ki Ageng Mangir, lantas juga ingin menyaksikan Kesenian tersebut. Kemudian mengutus punggawanya untuk memboyong Kesenian itu guna mengadakan pertunjukan di wilayahnya.

Begitulah akhirnya sesudah Ki Ageng Mangir menyaksikan langsung bagaimana kecantikan dan kelembutan Adiwaty, dia jadi jatuh cinta dan ingin mempersunting sebagai Permaisurinya. Dengan berbagai kesepakatan rahasia Adiwaty pun bersedia. Pucuk dicinta, memang itu tugas rahasia guna memikat Ki Ageng Mangir. Sementara rahasia bila Adiwty sebenarnya putrinya Panembahan Senapati sangat dirahasiakan, sedikitpun Ki Ageng Mangir tak mengetahuinya. Kemudian, oleh Sandi peristiwa itu pun dilaporkan ke Mataram pada Raja Panembahan Senapati.

Mendengar laporan itu Panembahan Senapati merasa lega, karena sebentar lagi bila musuhnya akan mudah dimusnahkan.

Sampai beberapa bulan lamanya, hingga kemudian Adiwaty pun berbadan dua dia pun hamil. Setiap hari Adiwaty selalu menampakan wajah kesedihan dan murung.
Ki Ageng Mangir pun bertanya pada Adiwaty istrinya, mengapa tidak seperti biasanya. Namun disaat Adiwaty menjelaskan bila dirinya sangat rindu pada orang tuanya dan mengatakan bila dirinya adalah putri Raja Mataram. Sudah tentu Ki Ageng Mangir sangat terkejut, bila istrinya itu anak Panembahan Senapati musuhnya.

Walau begitu mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur mencintai, juga diselingi bujuk rayu Istrinya, bila Ayahnya tidak akan berbuat apa pun sebab sudah menjadi menantinya.
Maka saat Istrinya mengajak pulang ke Mataram untuk menjenguk orang tuanya, Ki Ageng Mangir tak kuasa menolak mengikuti kemauan istrinya pergi ke Mataram.

Senjata Pusaka ampuh Kiyai Burung Klinthing tak pernah lepas dari tanganya. Namun anehnya ketika rombongan sudah berada di tapal batas Keraton Kerajaan Mataram, tak disangka ada Prajurit Keraton Mataram yang menghadang perjalananya.

Prajurit itu menyampaikan, bahwa demi menjaga adap dan susila agar nanti saat bertemu Raja tidak diperbolehkan membawa Pusakanya. Dalam berat hati bercampur kecewa Ki Ageng Mangir terpaksa melepaskan Pusakanya di tempat yang sudah disediakan. Sementara dalam hatinya pun sudah tidak merasa curiga. Dia menganggap kehadiranya adalah selaku anak menantu yang wajib menghormati mertuanya.

Tak diduga sebelumnya, disaat begitu posisi Ki Ageng Mangir menyembah dan bersujud di bawah kaki Panembahan Senapati mertuanya. Disaat itu pula Panembahan Senapati menghunus Keris Pusakanya sendiri. Serta dengan tangkas menghujamkan ke tubuh Ki Ageng Mangir hingga tewas terkulai, tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ada lagi pusaka yang sakti itu. Akhir kisahnya jenazah Ki Ageng Mangir Wonoboyo dikubur di Pemakaman Kota Gede Yogyakarta. Kemudian begitu kisahnya, jika posisi kuburan berbeda dari lainnya. Separuh Kuburan itu berada dalam pagar, sedang separuhnya pada luar pagar komplek pemakaman. Dalam arti menggambarkan bila setengah tubuhnya adalah masih keluarga, dan setengahnya tubuhnya adalah musuh Kerajaan Mataram… (Di besut dari sumber terpilih…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *