Beratnya Sebuah Janji

oleh -589 Dilihat

Oleh : Warno Hady

KransNews.com – Janji sama dengan hutang, yang wajib dibayar lunas. Sebuah ungkapan menyatakan, harga diri seseorang akan langgeng semasa hidup, bila selalu teguh dalam menepati janjinya. Sebaliknya bagi seseorang yang gemar janji namun tak selalu menepati, karena digunakan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu. Sudah pasti akan menemukan kesulitan segala urusanya seringan apapun.

Sebuah contoh yang dapat dijadikan pelajaran berharga dari cerita seorang Badawi Arab. Suatu ketika Orang Badawi ini melakukan kesalahan amat berat, maka oleh Hakim yang mengadilinya menjatuhkan hukuman mati atas dirinya.

Namun sebelum hukuman mati dilaksanakan Orang Badawi ini memohon agar diizinkan pulang ke rumahnya guna menemui anak dan Istrinya. Sudah pasti bagi Hakim sangat keberatan sekali untuk mengabulkan permintaanya. Walau sudah berkali-kali Orang Badawi ini bersumpah dia akan kembali setelah ketemu dengan Anak istrinya.

Tapi Pak Hakim tetap bertahan tidak mau mengabulkan, tentu curiga Orang Badawi ini akan ingkar dan kabur lari. Apalagi vonis mati sudah jatuh tinggal tunggu eksekusi saja.
Namun dalam suasana yang tegang itu, tiba-tiba ada seorang Arab maju menghadap kepada Pak Hakim. Dengan tegas, orang Arab itu mengatakan pada Pak Hakim bila dirinya siap untuk jadi pertanggungan bila Orang Badawi tak kembali.

Artinya dia siap menggantikan hukuman mati bila Orang Badawi itu kabur tak kembali.
Pak Hakim pun jadi terkagum-kagum menyaksikan prilaku ini, dalam suasana kritis begini masih ada juga manusia yang bersedia menolong orang lain. Kemudian dengan rasa iba Pak Hakim pun memberi izin pada Orang Badawi itu, seraya mengatakan agar segera kembali ke tempat setelah bertemu anak Isterinya.

Beberapa lama kemudian setelah kepergian Orang Badawi dan ditunggu hingga matahari hampir terbenam Orang Badawi belum juga muncul. Padahal hukuman mati sudah waktunya untuk dilaksanakan. Keadaan pun jadi mencekam, suasananya tertuju pada Orang Arab yang sudah berani menyatakan sebagai pertanggungan, dirinya harus pasrah rela menyerahkan dirinya sebagai pengganti hukuman mati.

Dalam ketegangan suasana itu. Ternyata Pak Haki yang arif bijaksana itu berkata. “Aku tidak mampu mengorbankan kehidupan orang yang ikhlas menyerahkan dirinya, hanya ingin melepaskan penderitaan orang lain”.

Tidak lama kemudian sehabis Pak Hakim berbicara. Tiba-tiba Orang Badawi itu muncul dengan keadaan sangat tergesa-gesa. Badannya basah kuyup penuh keringat karena terus berlari.

Seraya nafasnya yang terengah-engah itu dia menghadap Pak Hakim. Ia memohon maaf sebesar-besarnya karena terlambat hadir. Padahal diketahui keterlambatanya cuma mengejar waktu yang ia janjikan.

Jelasnya, ia datang terburu-buru itu hanya karena Menepati Janji. “Janji untuk Mati”. Dan demikianlah beratnya sebuah Janji.
Firman Allah :
Dan tepatilah janji pada Allah bila kau berjanji dan jangan membatalkan sumpah-sumpah setelah meneguhkanya, sedang kami menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu) Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala yang kamu perbuat“, (An-Nahl-91).

Jika membuat janji sampai menyebut nama Allah seperti “Demi Allah” sebenarnya sumpah/janji itu tidak hanya ditujukan pada yang di ajak bersumpah, namun pula terhapap Allah SWT. Maka berhati-hatilah dalam mengucapkan sumpah janji, mudahnya terucap tapi di hati bertentangan.

Apalagi Sumpah janji karena nafsu rasa ingin mendapatkan sesuatu. Maka betapa buramnya Sumpah janji itu sebab tidak tembus kata hatinya. Selain janji itu punya muatan amanah pada orang banyak yang wajib dengan benar melaksanakan apa yang sudah dijanjikanya sendiri.

Setiap manusia pasti terus menerus berhubungan dengan manusia. Dengan pernah menerima dan memberi yang disebut Amanah. Kepada siapa yang tidak melaksanakan Amanah dengan semestinya berarti harus menanggung dosa tiga kali.

Pertama pada yang memberi Amanah, kedua pada yang harus menerima Amanah, ketiga pada Allah. Bagi siapa yang teguh memegang dan melaksanakan Janjinya, ia tergolong terpuji.

Sebaliknya orang yang mampu menjaga diri untuk tidak mudah obral janji adalah lebih baik dari pada mudah obral janji namun tak pernah memenuhinya…….

Semoga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *